Ini Toba Bung…

Berkunjung ke Makam Raja dan Huta Sialagan Ambarita, Samosir

Berlibur selama empat hari di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, tak cukup untuk melukiskan keindahan beberapa destinasi wisata di kawasan ini. Parapat tak hanya memiliki air terjun sepiso-piso, batu gantung bahkan hingga danau toba yang kesohor ke seantero dunia. Namun dari sekian banyak keindahan tersebut, kami tertarik pada destinasi sejarah di kawasan pulau Samosir. Sebab, Pulau Samosir memiliki Huta (Perkampungan) makam para raja Batak. Dari sini, saya bisa mengetahui sejarah asal muasal sebuah marga masyarakat Batak.

Untuk menempuh ke destinasi Samosir pun terbilang sangat mudah bagi para wisatawan, maupun para backpeker, karena bisa di tempuh dengan jalur udara maupun darat. Dari Jakarta, Saya menggunakan pesawat dari Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta. Selama dua jam, akhirnya saya sampai di Bandara Polonia Medan. Dari Bandara Polonia, menuju Parapat menempuh jarak 180 KM, atau memakan waktu 4 jam jika menggunakan mobil.

Akomodasi di Kawasan Parapat sangat beragam, mulai dari hotel berbintang, motel, hingga home stay dengan harga yang variatif. Bagi wisatawan yang berkocek tebal bisa memilih hotel berbintang, home stay pun pilihan tepat bagi para backpeker di wilayah Tuk Tuk. Saat malam menjelang, saya memutuskan menginap di Hotel Patra Parapat Lake Resort.

Saya tertarik dengan hotel tersebut, karena memiliki view Danau Toba dari ketinggian puncak Siuhan. Dan, hotel ini pun diapit oleh gunung serta bukit yang hijau, sehingga sangat terlihat eksotik kala malam menjemput maupun pagi menjelang. Ikan Mas Arsik dengan sambel Tombur pun, menjadi menu favorit saya selama di hotel ini.

Setelah bermalam di Hotel Patra Parapat Lake Resort, pagi harinya dengan menggunakan mobil, Saya menuju Pulau Samosir. Untuk menuju pulau Samosir, Saya harus menggunakan angkutan danau agar sampai ke Samosir. Ada dua angkutan danau, yaitu kapal fery dan kapal danau. Oleh karena menggunakan mobil, Saya pun memilih kapal fery yang bisa mengangkut mobil dalam jumlah banyak.

Tarif naik Fery berikut kendaraan seperti minibus cuma Rp. 50.000. Kurang dari dua jam, kami pun sampai di pelabuhan Tomok. Selama penyeberangan tersebut, Saya dibuat takjub akan ke indahan danau toba. Danau terbesar di dunia itu, selain berair jernih, juga mennjadi sumber mata air bagi penduduk sekitar.

Makam Raja-raja Batak

Setelah mendarat di Pelabuhan Tomok, Saya pun langsung menuju objek wisata Kuburan Tua Raja Sidabutar. Sebagaimana yang tertera dalam check list berwisata selama di Samosir dan Parapat. Menurut tour guide di makam tersebut, konon, marga di tanah Batak ini ada rajanya. Dan, disinilah wilayah kerajaan Sidabutar.

Orang yang pertama kali menginjakan kaki di Tomok adalah Opu Soribun Sidabutar, nah inilah makamnya. Raja Sidabutar, dimakamkan dengan dibalut ulos, tidak di kubur. Melainkan hanya dimasukan kedalam kotak batu sebagai peti matinya. Disamping makam Raja Sidabutar, terdapat pula rumah adat batak (sopo) dan patung si Gale-gale. Dan, makam Raja Sidabutar ini, telah berumur 460 tahun.

Setelah dari makam raja Sidabutar, dua jam kemudian Saya pun menuju ke huta Sialagan Ambarita. Di huta atau perkampungan Sialagan ini, kami menemukan rekam jejak prosesi pengadilan ala suku batak kuno. Menurut keterangan tour guide huta Sialagan yang masih keturunan ke 17 dari raja Sialagan, di perkampungan Ambarita terdapat rumah adat (Ruma Sopo) dan rumah adat raja (Ruma Bolo) serta meja kursi dari batu yang dipergunakan untuk mengadili bagi siapa pun mereka yang mengusik ketentraman kampungnya.

Mereka yang membuat rusuh, akan di hukum penggal, diambil darah serta jantungnya untuk dan dimakan oleh Raja Sialagan. Kemudian jasadnya dibuang ke Danau Toba. Sebab, raja yakin, dengan cara seperti ini, para pembuat onar akan jera. Hukum adat seperti ini, mulai punah ketika  Ludwig Ingwer Nommensen, seorang misionaris datang ke tanah Batak untuk menyebarkan agama Kristen di tahun 1861.

Tak jauh dari beberapa destinasi tersebut, terdapat juga pusat souvenir, yang menjadi ciri khasnya. Ada ulos asli handmade, handicraft, kuliner, dll. Yang bisa dijadikan tentengan, sebagai tanda mata bahwa sempat berlibur di daerah bersejarah di tanah Samosir. Harganya pun, masih terjangkau dengan kantong para pelancong.  (fatkhurrohim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s