The Best Destination Lombok

Dua Hari Menjelajahi Destinasi Lombok

Untuk kali ketiga, saya berkesempatan datang kembali ke Provinsi Nusa Tenggara Barat. Utamanya Lombok. Kali ini, saya tidak sendirian, ada 15 orang lebih yang tergabung dalam rombongan Press Tour Pu­sat Komuniksi Publik Kemen­terian Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, dan Dinas Pariwisata Provinsi NTB. Durasinya pun cukup lama, ketimbang berlibur sendirian, yakni tiga hari dua malam.

Menjejakan kaki di tanah Lombok, baik liburan sendiri maupun berkelompok tetap mengasikan. Kalau dulu, hanya bermalam dua hari satu malam, dan hanya sempat menikmati dua destinasi, yaitu kawasan Senggigi dan Gili, kini saya berkesempatan menjelajah beberapa destinasi lain di wilayah Lombok. Meski sebagian pernah juga saya singgahi, namun kembali ke destinasi tersebut tetap menyenangkan.

Hari Pertama

Kami beserta rombongan media Jakarta, bertolak dari Bandara Soekarno Hatta tepat pukul 07.00 WIB, dan sampai di Bandara International Lombok pada pukul 09.00 WITA. Kami pun langsung disambut oleh tim Dinas Pariwisata Lombok. Dengan menggunakan bus, kami langsung menuju destinasi yang pertama yang bernama Narmada Park.

Taman Narmada ini terletak di Desa Lembuah, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, atau sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Mataram. Taman ini memiliki luas sekitar dua hectare, dan dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem. Nama Narmada diambil dari Narmadanadi—anak sungai Gangga yang sangat disucikan bagi umat Hindu di India.

Taman ini pun, dulu dijadikan tempat upacara yang bernama Pakelem yang diselenggarakan tiap purnama ke lima tahun Caka. Atau setiap bulan Oktober – November menurut penanggalan masehi. Selain untuk menggelar upacara Pakelem tiap tahunnya, Narmada Park ini pun, dulu dijadikan tempat peristirahatan raja, bersama permaisuri dan para selirnya. Di taman ini, terdapat sebuah sumber air yang bernama Tirta Amerta, yang diyakini mampu mengobati segala jenis penyakit. Sebab, kandungan oksigen di sumber air ini sangat tinggi.

Setelah dari Narmada Park, lalu kami bersama tim menuju destinasi kedua, yaitu Pura Lingsar. Pura Lingsar yang terletak di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat ini, adalah simbol perdamaian antara umat Hindu dan Islam. Pura Lingsar pun, menjadi pura yang tertua dan terbesar di Lombok yang didirikan pada tahun 1714 oleh Raja Anak Agung Karang Asem dari Bali. Lingsar itu diambil dari bahasa Sasak Arinta, Ling itu Suara, Sar itu berarti Air jadi artinya Pura Lingsar adalah Pura Suara Air.

Di Pura Lingsar terdapat dua bangunan penting pemangku agama yaitu, Pura Gaduh, tempat Pemangku Umat Hindu, dan Kemaliq tempat Amangku Sasak untuk umat Islam. Selain dua bangunan tersebut, masih terdapat dua bangunan lain yaitu Pesiraman dan pesimpangan Bhatara Bagus Balian, serta Lingsar Wulon. Ketiga bangunan Gaduh, Kemaliq dan Bhatara Bagus Balian hanya dibatasi dengan tembok besar.

Dalam setahun sekali, di kawasan Pura Lingsar selalu diselenggarakan sebuah event yang bernama perang topat. Acara adat yang diselenggarakan setiap bulan purnama Sasih keenam menurut kalender Bali dan kepitu menurut kalender Sasak. Selain itu, Perang Topat ini pun memiliki tujuan untuk memohon diturunkannya hujan, dan kemakmuran. 

Selepas dari Pura Lingsar, destinasi kita selanjutnya adalah Malimbu Hill. Kawasan Malimbu Hill ini adalah titik terbagus untuk melihat keindahan pantai Lombok Barat. Malimbu Hill adalah lahan bukit yang menghubungkan daerah Senggigi ke Pemenang. Jika cuaca sedang bagus, dari atas bukit Malimbu Hill kita dapat sunset dengan gunung Agung sebagai latar belakangnya. Setelah melihat panorama Malimbu Hill kita pun bertolak ke hotel untuk bermalam.

Hari Kedua

Saat rehat malam terasa nyenyak di hotel berbintang empat, usai break feast, kami melanjutkan perjalan ke destinasi lainnya, yaitu ke Museum Negeri Nusa Tenggara Barat. Di museum ini, kami diberikan kesempatan melihat 7.546 benda koleksi. Benda koleksi tersebut, antara lain, benda arkeologi, numismatika, benda sejarah, etnografika, dan seni rupa. Dan saya secara pribadi tertarik melihat contoh koleksi setempel berbentuk bulat dalam bahasa arab.

Setelah puas melihat beragam benda koleksi dari Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, kita pun langsung menuju ke destinasi selanjutnya yaitu, Desa Wisata kampung Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Jumputan, Kabupaten Lombok Tengah. Di kampung wisata ini, kita diajak keliling melihat sentra perajin tenun ikat trasdisional khas suku Sasak, berikut rumah adatnya.

Masyarakat kampung Sade, Desa Rambitan adalah penduduk asli suku tradisional Sasak, yang telah ada sejak jaman 1907. Bahkan, leluhur mereka, telah ada sejak jaman pra sejarah. Dan, tenun pun mengiringi sejarah mereka. Aktivitas menenun ini, dilakukan oleh sebagai wanita Sasak sejak usia 10 tahun. Adat disini mengatakan, jika perempuan dewasa belum pandai menenun, maka belum boleh dinikahkan.

Kemudian kami pun, diajak melihat-lihat rumah adat Sasak. Ada tiga jenis rumah Sasak yang dapat dijumpai di kampung ini. Dan, masing-masing rumah tersebut memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda-beda, yaitu Bale Kodong, Bale Tani, dan Bale Bonter. Cirri khas dari rumah adat suku Sasak adalah menggunakan alang-alang sebagai atapnya. Kemudian untuk ubinnya menggunakan tanah liat yang telah dicampur dengan sekam padi, dan kotoran sapi atau kerbau.

Di Desa wisata Sade, kami sarankan mintalah pendamping penduduk setempat sebagai guidenya. Sebab, mayoritas masyarakat di kampung tersebut belum piawai bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia. Mereka masih menjaga tradisi dengan menggunakan bahasa Sasak, baik saat menjajakan souvenir tenunnya bahasa komunikasi untuk menggali informasi tentang keunikan yang ada di kampung Sasak ini. Pandai-pandailah melakukan penawaran, ketika akan berbelanja souvenir. Semakin pandai menawar, semakin banyak koleksi tenun yang akan diperoleh.

Setelah berbelanja souvenir tenun ikat, dan ditutup dengan pertunjukan seni khas suku Sasak, kami pun melanjutkan perjalanan ke kawasan wisata Mandalika Resort, yang berakhir di pantai Teluk Tanjung Aan dan Pantai Kute di Lombok. Kedua pantai ini, memiliki garis pantai yang indah dengan pasir putih yang besar menyerupai merica dan lembut. Sudah bukan rahasia lagi, jika Lombok ke sohor dengan keindahan pantainya. Dan, ‘surga’ bagi para pecinta snorkeling dan surfing.

Setelah menikmati keindahan pantai dan meyelami kejernihan pantai Tanjung Aan, kami pun kembali menuju hotel untuk beristirahat. Sebab, dihari ketiganya kita langsung chek out sebelum fajar tiba. Dari hotel kami menginap, (kawasan Sengigi) memakan waktu satu setengah jam ke Bandara International Lombok. Sebab pesawat berangkat pada pukul 06.00 WITA dan tiba di Jakarta pukul 09.00 WIB. (Fatkhurrohim* Dimuat juga di Event Guide Magazine)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s